Home
Hadiri Peresmian Tol Pekanbaru - Dumai, Sekda Arfan Harap Perekonomian akan Terus Berkembang | Bupati Alfedri, Komoditas Ubi Racun Layak di Kembangkan Karena Bernila Jual | Tol Pekanbaru - Bangkinang Ditarget Selesai 2021 | Truk Fuso Tabrak Rumah Berisi Satu Keluarga yang Sedang Tertidur Pulas, Satu Tewas | Masrul Kasmy Jadi Pjs Bupati, Masyarakat Rohul Merasa tak Dipandang Pemprov Riau | Radiologi, Bupati Alfedri Sebut, Tes Swab Bisa Dilakukan di Rumah Sakit Tipe D Tualang
Sabtu, 26 09 2020

Tarmizi Tohor, Kepala Kemenag Riau
Ingin Berbuat yang Terbaik di Sisa Usia


Selasa, 20 Januari 2015 - 11:37:12 WIB
PENGANTAR REDAKSI-Memangku jabatan sebagai Kepala Kemenag (Kementerian Agama) Provinsi Riau, Drs. H. Tarmizi Tohor mengaku mengemban beban tugas yang amat berat. Apalagi ia bertugas di tanah kelahiran, menurut Tarmizi, harapan banyak orang antara lain bagaimana di tengah beban yang disandang, ada nilai lebih yang bisa diberikan untuk kepentingan daerah dan masyarakat.

Kendati demikian, mantan Kepala Kemenag Kota Pekanbaru ini mengaku tidak memiliki ambisi-ambisi tertentu di balik jabatan yang tengah disandangnya. ''Saya hanya ingin menjadi warga Provinsi Riau yang baik,'' katanya. Menurut Tarmizi, di usianya yang sudah lebih setengah abad, ia hanya punya obsesi sederhana, yaitu bisa berbuat yang terbaik untuk kepentingan daerah dan umat.

''Sebagai manusia biasa, saya juga ingin dihargai, tentu saja sesuai dengan pengabdian yang saya berikan,'' kata Tarmizi kepada riautrust.com di ruang kerjanya di Pekanbaru, beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, Tarmizi bercerita banyak tentang apa-apa yang telah ia lakukan sesuai bidang tugas yang ia emban. Termasuk juga obsesi-obsesinya. Berikut kutipannya:

Masih ada anggapan, lembaga pendidikan agama hanya dijadikan sebagai pilihan kedua bagi sementara kalangan bila tak bisa masuk ke lembaga pendidikan umum. Pandangan Anda?

Saya nilai pandangan seperti itu sudah mulai mengalami pergeseran. Fakta menunjukkan, sudah banyak lembaga pendidikan agama yang menjadi sasaran utama bagi sujumlah siswa untuk menuntut ilmu. Buktinya, banyak di antara lembaga pendidikan agama, misalnya tingkat madrasah, yang hanya mampu menampung separoh dari keseluruhan jumlah peminat yang mendaftar.

Anda melihat fenomena itu sebagai indikasi apa?

Ya, minat dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan agama mulai mengalami peningkatan yang signifikan. Justru kondisi ini membuat kita sering kelabakan, karena daya tampung yang ada tidak cukup mampu menampung minat para calon siswa. Terutama untuk madrasah-madrasah negeri.
Bisa jadi semakin banyak di antara orangtua atau calon peserta didik berpandangan bahwa dalam menghadapi tantangan zaman yang makin berat, bekal iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) saja tidak cukup. Mesti diimbangi dengan bekal agama dan moral yang kuat. Nah, lembaga pendidikan agama kan memiliki kurikulum tersendiri untuk memberi bekal agama dan moral yang cukup buat para peserta didik.

Apa upaya mengakomodasi kebutuhan kian besarnya minat siswa masuk madrasah?
Kita saat ini tengah berupaya untuk menegerikan setidaknya 40 madrasah swasta di Riau. Karena proses penegerian madrasah tidak mungkin selesai dalam waktu singkat, solusi sementara yang kita tempuh adalah dengan membuat lokal jauh dari sejumlah madrasah negeri yang ada. Dengan demikian diharapkan daya tampung dari madrasah-madrasah yang ada bisa ditingkatkan.
Sejalan dengan itu, kita juag terus melakukan upaya-upaya perbaikan mutu dari madrasah yang ada, termasuk juga perbaikan dari segi sarana dan prasarana. Sejumlah madrasah yang kondisi fisik sekolahnya kita nilai sudah mengalami kemunduran, kita lakukan perbaikan. Hampir tiap tahun kita menganggarkan dana untuk perbaikan dari fisik-fisik madrasah yang memang sudah saatnya direhabilitasi.
Termasuk juga soal materi pelajaran, juga dilakukan peningkatan-peningkatan yang dinilai sesuai dan mampu menghadapi tantangan zaman. Antara lain, meningkatkan kemampuan bahasa Inggeris para siswa.

Soal lain, yaitu bagaimana Anda melihat pengelolaan dana umat di Riau selama ini, yang antara lain dilakukan melalui Bazis (badan amil zakat infak da sedekah)?

Saya berani mengatakan, untuk persoalan yang satu ini, kendati telah mengalami kemajuan, tapi masih cukup punya peluang untuk lebih dimaksimalkan lagi. Maksud saya, dengan penduduk Provinsi Riau yang hampir 6 juta jiwa, di mana sebagian besar di antaranya merupakan umat Islam, sebenarnya potensi dana wakah dan sedekah di daerah ini cukup besar sekali.
Tapi faktanya, dari 12 kabupaten/kota di Riau, data terakhir menunjukkan dana wakaf dan sedekah umat yang tergalang melalui Bazis baru Rp35 miliar. Ini angka yang terbilang masih kecil bila dihadapkan dengan jumlah penduduk yang banyak. Secara kasar saya berani mengatakan, potensi dana umat melalui wakaf dan sedekah di Riau tidak kurang dari Rp100 miliar/tahun.

Anda mengartikan realitas tersebut sebagai apa?
Ya, masih sangat terbuka peluang untuk lebih menggali potensi dana umat yang ada di Riau. Ada dua langkah untuk itu. Selain memaksimalkan semua potensi yang masih ada, termasuk juga dalam pengelolaannya. Dalam pengelolaan yang saya maksud, antara lain, bagaimana mereka yang dipilih untuk mengelola dana umat sesuai antara bidang tugas dan disisplin ilmu yang ia miliki.
Semisal mereka yang dipercaya duduk mengelola dana, tidak salahnya ditempatkan di sana mereka yang memiliki latar belakang disiplin ilmu dari ilmu ekonomi dan akuntansi. Bukan kita meragukan kemampuan mereka yang tidak berdisiplin ilmu akuntansi, tapi terasa akan lebih baik kalau menyerahkan pengelolaan sesuatu kepada mereka yang dinilai memang ahli di bidang itu. Nabi Muhammad SAW kan juga menyarankan demikian.
Dalam kapasitas sebagai Kepala Kemenag Riau, di hampir semua kesempatan hal tersebut selalu saya tekankan. Saya minta kepada semua pihak untuk saatnya mengelola dana umat melalui manajemen modern yang akuntabel. Cara-cara lama dalam mengelola dana umat sudah saatnya ditinggalkan, karena kalau mau maju dan berkembang, Bazis harus dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen modern.

Apa pandangan Anda tentang potensi dana umat di Riau?
Saya berani mengatakan, kalau dana umat melalui wakaf dan sedekah sudah termenej dengan baik, inilah salah satu instrumen yang paling efektif untuk menekan angka kemiskinan di daerah ini. Bayangkan, dengan dana yang terkumpul Rp100 miliar/tahun melalui sedekah dan wakaf, akan tidak sedikit anggota masyarakat miskin yang terbantu. Baik mereka yang memang membutuhkan biaya hidup, termasuk juga mereka yang miskin karena tidak memiliki usaha. Dana yang terkumpul melalui Bazis akan bisa dijadikan sebagai modal membuka usaha bagi anggota masyarakat miskin.
Sebagian masyarakat tetap terkungkung dalam kemiskinan karena ketiadaan modal untuk memulai usaha, dan selama berstatus menerima upah dari pihak lain. Nah, Bazis bisa menjawab tantangan itu dengan mengucurkan modal usaha untuk masyarakat miskin, disertai dengan bekal keterampilan dan manajemen yang diperlukan, dimaksudkan agar masyarakat miskin memiliki usaha yang bisa diharapkan sebagai basis perekonomiannya.

Alhamdulillah, kerukunan antarumat beragama di Riau sejauh ini tetap terjaga dengan baik. Apa kuncinya dalam pandangan Anda?
Hanya satu, yaitu dialog.

Kongkritnya?
Selagi semua persoalan yang muncul didialogkan, terutama persoalan antarumat beragama, termasuk persoalan di antara umat seagama, dipastikan tidak akan mengalami ketersumbatan, yang sering bermuara pada terjadinya konflik horizontal. Inilah yang selalu kita jaga selama ini. Di mana-mana saya juga menekankan, bila dalam konteks hubungan antarumat beragama terjadi persoalan, termasuk juga persoalan di antara umat seagama, mari dibawa ke meja perundingan untuk didialogkan. Dipastikan akan ada solusi terbaik yang bisa diterima oleh semua pihak.
Masih dalam upaya menjaga kerukunan antarumat beragama, saya sering mengajak semua elemen untuk duduk semeja guna melakukan dialog. Misalnya, dialog antarsemua tokoh agama, tokoh pemuda dari semua agama yang ada, termasuk juga kalangan mahasiswa dari lintas agama. Tujuan kita, potensi-potensi yang mungkin menjadi penyebab timbulnya konflik, sedini mungkin akan bisa diantisipasi.

Dasar pikiran Anda?
Konflik antarumat beragama yang terjadi selama ini antara lain dimungkinkan karena begitu dihadapkan dengan masalah, kemudian masyarakat memecahkan masalah tersebut dengan caranya masing-masing. Cara pemecahan masalah yang ditempuh terkadang tidak bisa diterima oleh umat beragama yang lain. Sikap atau cara seperti ini sering memunculkan konflik horizontal di tengah masyarakat.

Langkah yang paling ideal?
Begitu ditemukan ketersumbatan masalah, segera laporkan ke pihak terkait, baik ke pemerintah daerah maupun kepolisian. Jangan sekali-sekali memecahkan masalah dengan cara sendiri-sendiri. Ini berbahaya. Selain lembaga formal, kita juga punya FKUB (forum kerukunan umat beragama), yang ada di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Sejauh ini keberadaan FKUB cukup efektif untuk meredam terjadinya konflik antarumat beragama di Riau.
Alhamdulillah, berkat semua langkah dan upaya sungguh-sungguh yang kita lakukan, sejauh ini kita di Riau dalam konteks kehidupan umat beragama masih mendapat cap hijau, atau sebagai daerah yang kehidupan antarumat beragamanya masih terpelihara dengan baik. Kita berharap kondisi demikian tetap terpertahankan karena sejatinya modal dasar pembangunan adalah terciptanya keamanan yang kondusif.
Kalau ada yang mengatakan modal dasar pembangunan adalah uang banyak dan sumber daya alam yang berlimpah, saya menilai anggapan itu keliru. Sebab, kalapun sebuah daerah atau negara memiliki uang yang banyak dan sumber daya yang berlimpah untuk membangun, tapi kalau tidak didukung oleh jaminan keamanan yang pasti, maka apa-apa yang dilakukan dalam pembangunan dipastikan tidak akan mencapai sasaran yang diharapkan.

Masih dalam konteks kerukunan antarumat beragama, apa yang menjadi potensi utama yang sering merusak kerukuan?
Di banyak kasus yang terjadi di Tanah Air, yang paling potensial dala merusak kerukunan umat beragama adalah pembangunan rumah ibadah. Tapi dalam konteks persoalan ini saya berani mengatakan, kerukunan antarumat beragama dipastikan tidak akan terganggu kalau semua pihak dalam membangun rumah peribadatan tetap mengacu dengan aturan dan ketentuan yang berlaku.
Konfilik baru muncul manakala ada di antara pihak tertentu yang berani mengangkangi aturan dan ketentuan yang ada dalam pembangunan rumah peribadatan, yang terang saja akan memicu reaksi tidak baik dari umat beragama yang lain. Kondisi inilah yang biasanya melebar menjadi konflik antarumat beragama.
Tapi banyak juga konfilik antarumat beragama menjadikan faktor agama hanya sebagai tumpangan. Bukan tidak mungkin konflik yang terjadi karena persoalan sosial, ekonomi, dan lainnya, tapi persoalan kemudian diseret menjadi masalah agama yang bernau SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Dalam konteks kasus seperti ini, agama hanya dijadikan sebagai tunggangan.

Terakhir, apa sebenarnya yang menjadi obsesi pribadi Anda?
Sebagai seorang abdi negara dan abdi masyarakat, saya tidak memiliki obsesi dan ambisi yang  terlalu berlebihan. Saya hanya ingin memberikan pengabdian terbaik, sesuai bidang tugas dan kompetensi saya. Saya tak punya cita-cita dan angan-angan untuk menjadi ini dan itu, lalu melakukan segala cara untuk memenuhinya.
Setakat ini saya hanya ingin menjadi warga Riau yang baik. Di tingkat usia yang sudah mulai menurun, karena sudah separuh abad, bisa memberikan yang terbaik sesuai bidang tugas dan kompetensi yang saya miliki, rasanya saya sudah mendapatkan kemenangan moral yang tidak ternilai. Sebagai manusia biasa, saya tentu juga ingin dihargai. Dan penghargaan yang saya terima, tentu saja selaras dengan pengbdian yang saya berikan untuk kepentingan bersama. (e-en)


 
   
Wawancara : Index
Ingin Berbuat yang Terbaik di Sisa Usia...
Tanoe dan Paloh Tak Punya Grassroots...
Ke Kampung Menjaring Aspirasi...
Indonesia Sudah Sejajar dengan BRIC...
"Saya Diancam Parang Gara-gara Komodo"...
Jabatan Itu Bagi Saya Ibadah...
Berorganisasi Bentuk Pola Pikir Saya...
 
 
 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2020 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com