Home
Walhi: Pemda Harus Prediksi Bencana Banjir Kurangi Kerugian Besar | MUI Riau Heran Kerukunan Umat Beragama Riau di Bawah Rata-Rata Nasional | Gedung Sekolah Terkena Banjir, Siswa SD di Rakitkulim Harus Belajar di Rumah | Hujan Lebat akan Mengguyur Riau | Banyak Kampung di Siak Minta Dimekarkan, DPRD Ingatkan Harus Ada Kajian | BRG Ingatkan Tahun Depan Riau Alami 7 Bulan Musim Kemarau
Minggu, 15 Desember 2019
/ Mozaik / 10:39:44 / Pelarang Jibab 1980-an: Dikeluakan Sekolah, Jilbab Beracun /
Pelarang Jibab 1980-an: Dikeluakan Sekolah, Jilbab Beracun
Sabtu, 02 November 2019 - 10:39:44 WIB

Oleh: Setiardi, Jurnalis Senior

Inilah kisah soal liku-liku pelarangan jilbab di tahun 1982. Cerita ini kisahkan Majalah Panji Masyarakat yang dahulu didirikan oleh Buya Hamka. Kisahnya begini, empat siswi SMA Negeri 68 Jakarta dikeluarkan dari sekolah. Mereka dianggap melanggar aturan tentang seragam sekolah. Keempat siswi itu rupanya ngotot mengenakan jilbab, seperti keyakinan mereka atas ajaran agama Islam.

Dan kita tahu, saat itu rezim Orde Baru (Orba) alergi dengan simbol-simbol Islam. Pemecatan terjadi di banyak tempat. Bahkan ada yang diinterogasi di markas tentara karena memakai jilbab.

Seperti tak ingin lengah, Pemerintah Orba makin menegaskan larangan penggunaan jilbab di sekolah negeri. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah mengeluarkan SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah. Intinya: tak ada ruang bagi pengguna jilbab di sekolah negeri. Yang bersikukuh menerapkan keyakinannya itu akan dikeluarkan dari sekolah.

Cerita selanjutnya makin seru. Bahkan kemudian muncul rumor soal 'jilbab beracun', yakni perempuan berjilbab yang menebar racun di pasar-pasar. Awal kisah ini di Pasar Rawu, Banten. Seorang perempuan dihajar massa dengan tuduhan menyebar racun di bahan makanan. Tudingan yang absurd. Saya duga itu untuk stigma negatif. [Apakah soal crossgender bercadar saat ini juga untuk stigma negatif? Entahlah].

Tapi rakyat bergerak. Demonstrasi menentang larangan jilbab merebak. Rejim tak mungkin melawan gelombang massa yang menguat. Terlebih, dinamika politik bergerak. Pendulum menuju ke kanan, mencari keseimbangan baru. Presiden Soeharto kemudian makin 'akrab' dengan kalangan Islam. ABRI, kekuatan utama Soeharto, makin didominasi tentara 'hijau'.

Akhirnya pada 1991 Pemerintah secara resmi menguarkan SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah soal seragam sekolah yang baru. Siswi diperbolehkan memakai jilbab.

Nah. kini muncul lautan jilbab. 9 dari 10 eks teman sekolah perempuan kini berjilbab. Terlihat saat acara reuni atau arisan. Tak cuma itu, saat ini saya punya teman karib di TNI, seorang perwira menengah berpangkat Letkol, teman Facebook juga, yang mengenakan jilbab. Semua baik-baik saja. Dunia tak menjadi kiamat. Padahal dulu membayangkannya pun rasanya muskil.

Lalu apa moral cerita di atas? Tak ada yang abadi. Jika kini ramai soal larangan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah [atas nama aturan seragam resmi], bisa saja suatu saat akan berubah. Dan bukan mustahil, anak-cucu para pejabat yang kini melarang cadar dan celana cingkrang itu justru memakainya. Tak ada yang bisa menebak masa depan!...]Republika]

   
 
Batang Kuantan Meluap, Beberapa Wilayah di Batang Peranap Banjir
Jumat, 13 Desember 2019 - 14:06

Turnamen Bola Voli Semi Open
Jumat, 13 Desember 2019 - 14:00

Malam hingga Dini Hari Besok Hujan Masih Guyur Riau
Jumat, 13 Desember 2019 - 13:52

Sore Ini Lima Pintu Bukaan PLTA Koto Panjang Bakal Dibuka Setinggi 150 Cm
Jumat, 13 Desember 2019 - 13:47

Pekanbaru akan Gelar UN Terakhir SMP 2020
Jumat, 13 Desember 2019 - 13:34

Siang Ini, PA 212 Geruduk Mabes Polri Tuntut Adili Sukmawati Dan Gus Muwafiq
Jumat, 13 Desember 2019 - 13:29

Ormas Islam Sangkal Tuduhan Terima Suap dari China Terkait Uighur
Jumat, 13 Desember 2019 - 13:28

Suap Jembatan Bangkinang, KPK Panggil Pegawai Dirjen Bina Marga Dan Direktur PT HD
Jumat, 13 Desember 2019 - 13:25

PA 212 soal Menag Polisikan Pelarang Atribut Natal: Terserah
Jumat, 13 Desember 2019 - 09:16

Harga TBS Sawit di Riau Merangkak Naik
Jumat, 13 Desember 2019 - 08:45

Riau Jadi Tuan Rumah Pertemuan DBH Sawit Se Sumatera 2019
Jumat, 13 Desember 2019 - 08:40

Media Asing: China Suap Ormas Islam RI Agar Diam soal Uighur
Jumat, 13 Desember 2019 - 08:33

Kritik Penghapusan UN, Fahri Hamzah: Jangan Seperti Sopir Bajaj Putar Arah!
Jumat, 13 Desember 2019 - 08:25

Gaungkan #TangkapAbuJanda, Iwan Sumule: Ini Sudah Berulang dan Melukai Rakyat
Jumat, 13 Desember 2019 - 08:21

Menjelang Pergantian Tahun 2020 Satpol-PP Kabupaten Siak Gelar Operasi PEKAT
Jumat, 13 Desember 2019 - 08:18

Pemkab Siak Dorong Setiap Kampung Miliki Kawasan Ruang Terbuka Hijau
Jumat, 13 Desember 2019 - 08:10

Luruskan Soal Sertifikasi Majelis Taklim, Begini Kata Menag Fachrul Razi
Kamis, 12 Desember 2019 - 14:42

Bukaan Pintu Waduk PLTA Koto Panjang Bakal Ditambah Jadi 120 cm
Kamis, 12 Desember 2019 - 14:31

37.265 Warga Pekanbaru Belum Rekam e-KTP
Kamis, 12 Desember 2019 - 14:28

Ditemukan Jejak Harimau, BBKSDA Turunkan Tim
Kamis, 12 Desember 2019 - 14:25

BPBD Riau Siapkan Alat Evakuasi Banjir di Titik-titik Rawan
Kamis, 12 Desember 2019 - 13:32

Rancang Kalender Kegiatan 2020, PBSI Riau Gelar Mukerprov
Kamis, 12 Desember 2019 - 13:22

Pembangunan Masjid Cheng Ho Rohil Dalam Tahap Pematangan Lahan
Kamis, 12 Desember 2019 - 12:05

Stop Retorika Pemberantasan Mafia Migas: Adili Ahok!
Kamis, 12 Desember 2019 - 11:57

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com