Home
Saksikan Penobatan Ninik Mamak, Bupati: Mari Bersatu Padu Wujudkan Kampar yang Maju | 20 Hektar Lahan Masyarakat di Bengkalis Terbakar, Polisi Tetapkan 1 ASN Tersangka Karhutla | Waspada, Malam Ini Riau Diguyur Hujan Disertai Petir | Titik Api Marak di Riau, Karhutla Mulai Mengancam | Dinkes Riau Minta Warga Tidak Panik Terkait Virus Corona, Begini Penanganannya | Bengkalis Baru Bisa Penuhi 37 Persen Kebutuhan Beras Masyarakatnya
Senin, 27 Januari 2020
/ Mozaik / 10:39:44 / Pelarang Jibab 1980-an: Dikeluakan Sekolah, Jilbab Beracun /
Pelarang Jibab 1980-an: Dikeluakan Sekolah, Jilbab Beracun
Sabtu, 02 November 2019 - 10:39:44 WIB

Oleh: Setiardi, Jurnalis Senior

Inilah kisah soal liku-liku pelarangan jilbab di tahun 1982. Cerita ini kisahkan Majalah Panji Masyarakat yang dahulu didirikan oleh Buya Hamka. Kisahnya begini, empat siswi SMA Negeri 68 Jakarta dikeluarkan dari sekolah. Mereka dianggap melanggar aturan tentang seragam sekolah. Keempat siswi itu rupanya ngotot mengenakan jilbab, seperti keyakinan mereka atas ajaran agama Islam.

Dan kita tahu, saat itu rezim Orde Baru (Orba) alergi dengan simbol-simbol Islam. Pemecatan terjadi di banyak tempat. Bahkan ada yang diinterogasi di markas tentara karena memakai jilbab.

Seperti tak ingin lengah, Pemerintah Orba makin menegaskan larangan penggunaan jilbab di sekolah negeri. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah mengeluarkan SK 052/C/Kep/D.82 tentang seragam sekolah. Intinya: tak ada ruang bagi pengguna jilbab di sekolah negeri. Yang bersikukuh menerapkan keyakinannya itu akan dikeluarkan dari sekolah.

Cerita selanjutnya makin seru. Bahkan kemudian muncul rumor soal 'jilbab beracun', yakni perempuan berjilbab yang menebar racun di pasar-pasar. Awal kisah ini di Pasar Rawu, Banten. Seorang perempuan dihajar massa dengan tuduhan menyebar racun di bahan makanan. Tudingan yang absurd. Saya duga itu untuk stigma negatif. [Apakah soal crossgender bercadar saat ini juga untuk stigma negatif? Entahlah].

Tapi rakyat bergerak. Demonstrasi menentang larangan jilbab merebak. Rejim tak mungkin melawan gelombang massa yang menguat. Terlebih, dinamika politik bergerak. Pendulum menuju ke kanan, mencari keseimbangan baru. Presiden Soeharto kemudian makin 'akrab' dengan kalangan Islam. ABRI, kekuatan utama Soeharto, makin didominasi tentara 'hijau'.

Akhirnya pada 1991 Pemerintah secara resmi menguarkan SK Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah soal seragam sekolah yang baru. Siswi diperbolehkan memakai jilbab.

Nah. kini muncul lautan jilbab. 9 dari 10 eks teman sekolah perempuan kini berjilbab. Terlihat saat acara reuni atau arisan. Tak cuma itu, saat ini saya punya teman karib di TNI, seorang perwira menengah berpangkat Letkol, teman Facebook juga, yang mengenakan jilbab. Semua baik-baik saja. Dunia tak menjadi kiamat. Padahal dulu membayangkannya pun rasanya muskil.

Lalu apa moral cerita di atas? Tak ada yang abadi. Jika kini ramai soal larangan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah [atas nama aturan seragam resmi], bisa saja suatu saat akan berubah. Dan bukan mustahil, anak-cucu para pejabat yang kini melarang cadar dan celana cingkrang itu justru memakainya. Tak ada yang bisa menebak masa depan!...]Republika]

   
 
Bupati Sukiman Resmikan dan Bantu 100 Juta Untuk Bangunan Masjid Al Ghufron Ujung Batu
Sabtu, 25 Januari 2020 - 11:39

Bupati Hadiri MPTB BUMDesa Luberti Jaya Desa Lubuk Bendahara Timur
Sabtu, 25 Januari 2020 - 11:32

Indosat Tambah BTS Perkuat Jaringan di Riau
Sabtu, 25 Januari 2020 - 11:12

Pascasarjana Unilak dan IDI Riau Realisasikan Magister Hukum Kesehatan
Sabtu, 25 Januari 2020 - 10:55

Kapal Karam di Bengkalis, Polisi Amankan Penampung dan Penyalur TKI Ilegal
Sabtu, 25 Januari 2020 - 10:51

Bupati Kampar Ingin Ubah Wajah Kota: Dari Membangun Taman Kota Hingga Memindahkan Stadion
Sabtu, 25 Januari 2020 - 10:45

Dewan Pimpinan Harian LAMR Ajak IPK Bersinergi Jaga dan Bangun Riau
Sabtu, 25 Januari 2020 - 10:40

KSOP Dumai: Waspada Gelombang Tinggi Perairan
Jumat, 24 Januari 2020 - 20:54

Bupati Catur Sugeng Nyatakan Siap Bangun Kantor PWI Kampar
Jumat, 24 Januari 2020 - 20:44

1.500 Hektare Lahan di KIT Bakal Jadi Industri Hilirisasi Agro
Jumat, 24 Januari 2020 - 20:38

Ahmad Syah Minta Petani Kelapa Sawit Buat Kelompok dalam Wadah Koperasi
Jumat, 24 Januari 2020 - 20:28

Fatwa Haram Rokok Elektronik Upaya Koreksi Kiblat Bangsa
Jumat, 24 Januari 2020 - 15:11

Jangan Panik, Begini Cara Agar Tak Terjangkit Virus Corona Wuhan
Jumat, 24 Januari 2020 - 15:01

Jalan Lintas Kampar-Kuansing Amblas, Pengendara Diminta Sabar
Jumat, 24 Januari 2020 - 14:02

DPRD Pekanbaru Sarankan Nama KIT Ubah Jadi KIP, Ini Alasannya
Jumat, 24 Januari 2020 - 13:58

Hujan Disertai Petir akan Mengguyur Riau
Jumat, 24 Januari 2020 - 13:54

Malaysia Ikut Bantu Pencarian Korban Kapal Tenggelam di Perairan Riau
Jumat, 24 Januari 2020 - 13:44

Cegah Virus Corona Masuk ke Riau, Bandara SSK II Pekanbaru Aktifkan Thermo Scanner
Jumat, 24 Januari 2020 - 10:56

Riau Kontribusi 40 Persen Terhadap Ekspor CPO Nasional
Jumat, 24 Januari 2020 - 10:51

Imam Abu-Usamah: Bergaji Rp 93 Miliar, Mane Mau Bersihan WC Masjid
Jumat, 24 Januari 2020 - 09:29

Said Didu: Prinsipnya Negara Wajib Sediakan Pelayanan Kesehatan Untuk Rakyat, Sekarang Terbalik
Jumat, 24 Januari 2020 - 09:25

Virus Corona Sudah Sampai Singapura, Kenali Gejalanya
Jumat, 24 Januari 2020 - 09:22

Waspada, BMKG Deteksi Lonjakan Titik Panas di Riau
Jumat, 24 Januari 2020 - 09:08

Peti Kemas Ini Tutupi Jembatan Sungai Dumai. Ini Alasannya
Jumat, 24 Januari 2020 - 09:05

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com