Home
Bupati: Puluhan Bangunan di Kuansing Rusak Akibat Puting Beliung | Perppu KPK Jadi Pembuktian Jokowi Tunduk Pada Rakyat Atau Oligarki | Deklarasi Oposisi Rocky Gerung, Siapa Mau Bergabung? | Kursi Wabup Siak Masih Kosong, Komitmen Alfedri Dipertanyakan | Kejati Riau Periksa Pimpinan BRK Pangkalan Kerinci | Berharap Moratorium Bantuan Rumah Ibadah Dibuka
Rabu, 16 Oktober 2019
/ Nasional / 08:09:49 / WWF Sebut Para Cukong Biayai Pembakaran Hutan /
WWF Sebut Para Cukong Biayai Pembakaran Hutan
Jumat, 20 September 2019 - 08:09:49 WIB

JAKARTA - World Wildlife Fund (WWF) Indonesia menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia disengaja untuk penguasaan lahan. Ada para pemilik modal atau cukong yang membiayai pembakaran lahan oleh masyarakat.

Di negara lain, kata Direktur Policy & Advocacy WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, juga terjadi karhutla yang sama-sama akibat ulah manusia. Tapi seperti di Australia dan California (Amerika Serikat), karhutla yang terjadi tak terkait dengan upaya penguasaan lahan.

Meski demikian, Aditya tak mengungkapkan apakah cukong dimaksud perorangan, sekelompok orang yang teroganisir, atau justru korporasi. Hanya saja sebagai petunjuk awal bisa dilihat dari pihak-pihak yang mengambil manfaat dari yang lahan terbuka pasca terbakar.

"Dari lahan-lahan yang terbakar dalam kurun waktu tertentu biasanya akan berubah menjadi kebun. Dari situlah bisa dikira-kira bahwa dialah yang memodali pembakaran itu. Bisa oknum pribadi atau korporasi," kata Sarjana Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada itu kepada Tim Blak-blakan.

Sinyalemen serupa pernah disampaikan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo. Sebesar 99 persen karhutla, kata dia, akibat ulah manusia, "80 persen lahan terbakar berubah menjadi lahan perkebunan."

Pembukaan lahan dengan cara dibakar itu disinyalir untuk digunakan sebagai perkebunan kelapa sawit. Indonesia saat ini memiliki 14,3 juta hektar perkebunan kelapa sawit.

Menurut Aditya, memang ada masyarakat yang biasa membuka lahan dengan cara membakar. Tapi mereka melakukannya di area yang terbatas dan diatur sedemikian rupa agar terkendali. Karena itu kearifan lokal yang mereka lakukan secara turun-temurun selama ratusan tahun tak pernah mengakibatkan bencana.

Kalau pun ada masyarakat yang kini membakar, tapi luas lahannya mencapai puluhan hektare, hal itu patut dicurigai ada cukong di belakangnya. Sebab membuka lahan untk kebun kelapa sawit, misalnya, modalnya sekitar Rp 40-60 juta perhektare. "Siapa sih (masyarakat perorangan) yang punya dana sebanyak itu?," ujar Aditya.

Ia mencontohkan kasus kebakaran di lahan restorasi ekosistem WWF melalui PT Alam Bukit Tigapuluh (PT ABT) di perbatasan Provinsi Jambi dan Riau. Pada saat tim WWF akan masuk untuk memadamkan api, ada kelompok-kelompok masyarakat yang menghalang-halangi.

"Jangan, sudah susah-susah kita bakar kok (akan dipadamkan) ha-ha-ha," tutur lelaki kelahiran Yogyakarta, 31 Mei 1975 itu.

Agar kebakaran hutan yang massif tidak terus terulang, pencegahan dini mutlak dilakukan oleh segenap komponen masyarakat. Selain itu berbagai upaya penegakkan hukum masih harus dimaksimalkan. Sebab selama ini, para cukong nyaris tak tersentuh kecuali warga yang membakar langsung di lapangan.

[Detik.com]

   
 
Baznas Bina Mualaf Suku Akit di Pulau Mendol, Riau
Senin, 14 Oktober 2019 - 13:30

Konflik Gajah Sumatera dengan Manusia di Riau Meningkat Akibat Kebakaran Tesso Nilo
Senin, 14 Oktober 2019 - 13:13

Main Judi, Oknum Kades di Kampar tak Berkutik Bibekuk Polisi
Senin, 14 Oktober 2019 - 13:10

Riau Jadi Provinsi Pertama Luncurkan Kebun PSR Berstandar GAP
Senin, 14 Oktober 2019 - 13:01

Layanan BPJS Kesehatan Lebih Dinikmati Orang Kaya Dibanding yang Miskin
Senin, 14 Oktober 2019 - 12:59

Semester III 2019, Penerimaan Pajak di Riau Rp10,512 Triliun
Senin, 14 Oktober 2019 - 12:49

Wah, 753 Titik Panas Terdeteksi di Pulau Sumatra
Senin, 14 Oktober 2019 - 09:59

Siang hingga Malam Sebagian Riau Diguyur Hujan
Senin, 14 Oktober 2019 - 09:57

Hari Ini Pansel Umumkan Seleksi Empat Jabatan BRK
Senin, 14 Oktober 2019 - 09:54

Ditolak UGM, Fahira Idris: Terima Kasih UII Sudah Undang UAS
Senin, 14 Oktober 2019 - 09:45

Satelit Tunjukkan Upaya Cina Hancurkan Kuburan Muslim Uighur
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:53

Eks Ketua DPRD Pekanbaru Masih Kuasai Mobil Dinas yang Diduga Telah Dijual
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:43

Pemko Bentuk Tim Percepatan Pembangunan KIT
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:37

Prabowo Temui Jokowi, PA 212 Tetap Minta Rizieq Shihab Pulang
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:27

Surya Paloh dan Prabowo Sepakat Amandemen UUD 1945 Menyeluruh
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:22

Beredar Kabar Ribuan Mahasiswa Kembali Demo, Polda Metro: Belum Ada Pemberitahuan
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:14

Bukan Terpapar Radikalisme, Komentar Istri Kolonel Hendi Karena Efek Pilpres 2019
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:10

Dianggap Langgar Etika Politik Jika Gabung Jokowi, Wajar Pendukung Prabowo Kecewa
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:03

"Gerakan Emak-emak Indonesia Bersuara" Minta Jokowi Hentikan Kekerasan Pada Rakyat
Senin, 14 Oktober 2019 - 08:00

Pemko Dumai Diminta Tinjau Ulang Izin Usaha Terindikasi Maksiat
Senin, 14 Oktober 2019 - 07:54

Prakiraan Cuaca Riau Hari Ini: Cerah Berawan, Hotspot Terpantau 33 Titik
Minggu, 13 Oktober 2019 - 12:25

Dewan Riau: Perbaiki Dulu Kualitas Layanan BPJS Baru Naikkan Iuran
Minggu, 13 Oktober 2019 - 12:22

Ustaz Abdul Somad Tolak Hadiah Motor Custom Nan Keren Ini
Minggu, 13 Oktober 2019 - 12:04

Kaca Mobil Baru Dipasangi Stiker Kode, Apa sih Fungsinya?
Minggu, 13 Oktober 2019 - 12:00

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com