Home
Mahfud MD Sebut Kasus Ustadz Ubdul Somad Sudah Kadaluarsa | Pria Ini Kantongi Rp 21 Triliun dari Bisnis Camilan Sehat | Kisah Mahasiswa Papua di Jakarta: Kami Naik Angkot, Orang Tutup Hidung | Polisi Pastikan Akan Periksa Hotman Paris Hutapea Dalam Kasus Dugaan Pornografi | Lukman Edy dan Karding Tak Diundang Muktamar PKB: Buntut Soal Cawapres | Sumber Air Kering, BPBD Meranti Terpaksa Pakai Air Laut Padamkan Karhutla di Desa Insit
Selasa, 20 08 2019
/ Metropolitan / 14:49:16 / Mungkinkah WNI di Australia Bisa Capai Karier Menjadi Bos? /
Mungkinkah WNI di Australia Bisa Capai Karier Menjadi Bos?
Senin, 15 Juli 2019 - 14:49:16 WIB

RIAUTRUST.COM - Australia memberikan kesempatan yang luas kepada imigran untuk bekerja, sehingga pekerja dari beragam etnis dengan mudah banyak ditemukan di perusahaan. Tapi, masalahnya apakah mereka bisa mencapai tingkat manajerial atau eksekutif?

Salah satu warga Indonesia yang sudah bekerja belasan tahun di Australia pernah juga mempertanyakannya, "apakah saya bisa jadi bos?"

Sudah hampir 15 tahun Mahendra, yang enggan nama akhirnya disebutkan, bekerja di sebuah perusahaan penyedia teknologi bagi industri keuangan yang berpusat di kota Brisbane, Australia.

Pria asal Surbaya tersebut mengaku jika saat ini dirinya sudah tidak lagi ingin mengejar karir, setelah melihat tertutupnya kemungkinan baginya mencapai puncak karir di perusahaannya.

"Saya tidak mengatakan Australia rasis, tetapi ada satu faktor yang membuat saya tetap berada di posisi yang sama dalam hampir 8 delapan tahun terakhir," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Mahendra mengaku jika ia membandingkan karirnya dengan teman-temannya yang bekerja di Jakarta, banyak diantara mereka sudah mencapai puncak pimpinan perusahaan.

Sementara saat ini ia hanya mengepalai sebuah tim kecil yang menurutnya "tidak memiliki peran signifikan".

"Saya selalu ingin kembali ke Jakarta, tetapi susah juga mencari kerja karena beberapa perusahaan menyangka gaji saya sudah ketinggian."

Pengalaman Mahendra di tempat kerjanya menjadi refleksi soal data statistik terkait kepemimpinan perusahaan di Australia.

95 persen senior eksekutif atau setingkat CEO di Australia adalah berasal dari etnis Anglo-Celtic atau latar belakang Eropa, menurut Australian Human Rights Commission.

Meski 24 persen dari seluruh warga Australia memiliki latar belakang Aborigin atau bukan Eropa, hanya lima persen yang berada di puncak kepemimpinan perusahaan.

Persepsi etnis tertentu hanya cocok jadi pekerja

Sementara hasil penelitian lainnya di Australia menembukan pemimpin eksekutif yang berasal dari etnis selain Eropa, 33 persen lebih mungkin mengungguli rekan-rekan lainnya.

"Satu faktor signifikan adalah adanya asumsi soal pekerja mana yang pas untuk jadi pemimpin," ujar Race Discrimination Commissioner Chin Tan

"Ini bisa jadi karena adanya asumsi yang berdasarkan budaya dan etnis tertentu soal orang mana yang secara alami bisa jadi pemimpin," tambahnya.

"Tentu saja asumsi-asumsi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan."

Apa yang dialami Mahendra juga dialami Elanor, warga asal Hong Kong yang bekerja di sebuah firma hukum.

"Salah satu persepsi yang dimiliki orang, terutama di bidang hukum, adalah kita [orang Asia] adalah pekerja keras, kita adalah yang bekerja [bukan pemimpin]" ujarnya.

"Kita jarang sekali disebut sebagai "oh mereka adalah pemimpin yang baik, ayo promosikan mereka".

Seringkali persepsi seperti itu membuat dirinya meragukan kemampuannya sendiri.

Dai Le adalah salah seorang penggiat yang sering menyuarakan pentingnya keberagaman etnis di tempat kerja dan tergabung dengan organisasi DAWN Network.

Ia merekomendasikan agar kelompok imigran di Australia merefleksikan bagaimana budaya mereka bisa mempengaruhi perilaku di tempat kerja.

Salah satu contohnya adalah budaya Asia yang menurutnya cenderung membela atasan, tapi di satu sisi membuat mereka kurang percaya diri untuk berbicara atau mengusulkan ide-ide baru.

"Mungkin Anda berpikir 'Ini bukan tempat saya untuk berkomentar' [jadi Anda tidak berani mengatakan apa-apa]," kata Dai.

Ia juga mengatakan orang-orang dari latar belakang Asia seringkali takut malu jika ada yang tidak setuju dengan ide-ide mereka dalam sebuah rapat, dan karenanya menyebabkan mereka berdiam diri.

Menurutnya langkah pertama yang bisa dilakukan untuk mengubah perilaku para imigran di tempat kerja adalah dengan mengidentifikasi nilai-nilai budaya-budaya dari negara asal yang membatasi karir mereka

Pelatihan dan bimbingan soal ini dapat membantu imigran untuk bisa keluar dari situasi seperti ini.

"Bersikaplah proaktif. Ikut serta dalam forum yang membahas cara berkomunikasi di tempat kerja ... Itu sebabnya saya mendirikan DAWN Network, karena saya tidak pernah bertemu orang yang membimbing saya," katanya.

"Para mentor yang kami miliki punya kesadaran soal budaya dan telah melalui perjalanan hidup yang serupa."

Artikel ini telah disadur dari tulisan aslinya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

[REPUBLIKA]

   
 
Kapolsek Kelayang Irup Penurunan Bendera HUT ke-74 RI
Senin, 19 Agustus 2019 - 13:59

Hendrisan launching CFD di Kecamatan Sabak Auh
Senin, 19 Agustus 2019 - 13:53

Partai PKS Inhu Ajak Kader dan Masyarakat Upacara HUT RI ke-74 di Kantor Sekretariat
Senin, 19 Agustus 2019 - 13:50

260 Titik Panas Tersebar di Wilayah Sumatera, Riau 57 Titik
Senin, 19 Agustus 2019 - 13:47

Asisten Budhi Yuwono Sebut, Kerja Keras dan Displin Kunci Keberhasilan
Senin, 19 Agustus 2019 - 13:45

Tabligh Akbar UAS di Masjid At-Taqwa Simpang Kelayang Dipenuhi Ribuan Umat Muslim
Senin, 19 Agustus 2019 - 13:40

Siang Ini Bank Riau Kepri Gelar RUPS
Senin, 19 Agustus 2019 - 11:49

Jamaah Haji Riau Menunggu Tiga Jam di Batam
Senin, 19 Agustus 2019 - 11:47

Peringatan HUT RI ke-74 Kecamatan Bantan
Ketua Komisi IV DPRD Bengkalis Didaulat Bacakan Teks Prok
Senin, 19 Agustus 2019 - 10:59

Rocky Gerung: Buat Apa Ibukota Baru, Memerintah Kan Bisa Dari Smartphone
Senin, 19 Agustus 2019 - 09:38

Wasekjen MUI: UAS Tengah Jawab Pertanyaan Jamaah di Ruang Tertutup Dan Eksklusif
Senin, 19 Agustus 2019 - 09:34

Semua Setuju Ekstremisme Tidak Punya Tempat, Tapi Jangan Produksi "Hantu-Hantu"
Senin, 19 Agustus 2019 - 09:32

Perang Proxy di Balik Viral Ceramah Ustaz Abdul Somad?
Senin, 19 Agustus 2019 - 09:29

Fahri Setuju Yusril, Adat Dan Islam Pondasi Struktur Negara
Senin, 19 Agustus 2019 - 09:16

Alfedri: Teruskan Perjuangan Pahlawan Dengan Bersama-sama Memajukan Daerah
Senin, 19 Agustus 2019 - 08:53

Camat Rakit Kulim Ramah Tamah Dengan Anggota Paskibra dan Orangtua
Senin, 19 Agustus 2019 - 08:45

Camat Rakit Kulim Irup HUT RI ke-74
Senin, 19 Agustus 2019 - 08:36

Tuan Rumah Siak Keluar Sebagai Juara Pacu Sampan Tradisional
Senin, 19 Agustus 2019 - 08:28

Upacara Penurunan Bendera di Siak Berlangsung Khidmat
Senin, 19 Agustus 2019 - 08:22

Rayakan HUT RI ke-74 Pemkec Rakitkulim Gelar Lomba Pawai dan Karnaval
Senin, 19 Agustus 2019 - 08:19

Jamaah Haji Riau Tiba Di EHA Tanggal 19 Mendatang
Sabtu, 17 Agustus 2019 - 10:53

Duh, Kasatpol PP Salah Sebut Umur Indonesia Saat Upacara di Pulau Reklamasi
Sabtu, 17 Agustus 2019 - 10:45

7 Fakta Penting Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Sabtu, 17 Agustus 2019 - 10:38

Bupati Siak Alfedri Gelar Ramah Tamah Bersama Pejuang Veteran
Sabtu, 17 Agustus 2019 - 10:33

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com