Home
WASPADA! Tiga Mobil Tertimbun Longsor Jalan Sumbar-Riau | Penemuan Bongkahan Emas Terbesar Pecahkan Rekor, Nilainya Rp1,45 Miliar | Jilbab Wanita Muslimah, Bukan Untuk Berhias | Rasidah Alfedri dan Rahimawati Hamzah Sampaikan Ucapan Tahniah | 6 Bulan Jadi Tahanan Kota, Akhirnya Mantan Kepala Bapemaspemdes Inhu Diseret ke Rutan Rengat | Inhu Siaga Banjir dan Antisipasi Karhutla 2020
Selasa, 10 Desember 2019
/ Metropolitan / 14:49:16 / Mungkinkah WNI di Australia Bisa Capai Karier Menjadi Bos? /
Mungkinkah WNI di Australia Bisa Capai Karier Menjadi Bos?
Senin, 15 Juli 2019 - 14:49:16 WIB

RIAUTRUST.COM - Australia memberikan kesempatan yang luas kepada imigran untuk bekerja, sehingga pekerja dari beragam etnis dengan mudah banyak ditemukan di perusahaan. Tapi, masalahnya apakah mereka bisa mencapai tingkat manajerial atau eksekutif?

Salah satu warga Indonesia yang sudah bekerja belasan tahun di Australia pernah juga mempertanyakannya, "apakah saya bisa jadi bos?"

Sudah hampir 15 tahun Mahendra, yang enggan nama akhirnya disebutkan, bekerja di sebuah perusahaan penyedia teknologi bagi industri keuangan yang berpusat di kota Brisbane, Australia.

Pria asal Surbaya tersebut mengaku jika saat ini dirinya sudah tidak lagi ingin mengejar karir, setelah melihat tertutupnya kemungkinan baginya mencapai puncak karir di perusahaannya.

"Saya tidak mengatakan Australia rasis, tetapi ada satu faktor yang membuat saya tetap berada di posisi yang sama dalam hampir 8 delapan tahun terakhir," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Mahendra mengaku jika ia membandingkan karirnya dengan teman-temannya yang bekerja di Jakarta, banyak diantara mereka sudah mencapai puncak pimpinan perusahaan.

Sementara saat ini ia hanya mengepalai sebuah tim kecil yang menurutnya "tidak memiliki peran signifikan".

"Saya selalu ingin kembali ke Jakarta, tetapi susah juga mencari kerja karena beberapa perusahaan menyangka gaji saya sudah ketinggian."

Pengalaman Mahendra di tempat kerjanya menjadi refleksi soal data statistik terkait kepemimpinan perusahaan di Australia.

95 persen senior eksekutif atau setingkat CEO di Australia adalah berasal dari etnis Anglo-Celtic atau latar belakang Eropa, menurut Australian Human Rights Commission.

Meski 24 persen dari seluruh warga Australia memiliki latar belakang Aborigin atau bukan Eropa, hanya lima persen yang berada di puncak kepemimpinan perusahaan.

Persepsi etnis tertentu hanya cocok jadi pekerja

Sementara hasil penelitian lainnya di Australia menembukan pemimpin eksekutif yang berasal dari etnis selain Eropa, 33 persen lebih mungkin mengungguli rekan-rekan lainnya.

"Satu faktor signifikan adalah adanya asumsi soal pekerja mana yang pas untuk jadi pemimpin," ujar Race Discrimination Commissioner Chin Tan

"Ini bisa jadi karena adanya asumsi yang berdasarkan budaya dan etnis tertentu soal orang mana yang secara alami bisa jadi pemimpin," tambahnya.

"Tentu saja asumsi-asumsi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan."

Apa yang dialami Mahendra juga dialami Elanor, warga asal Hong Kong yang bekerja di sebuah firma hukum.

"Salah satu persepsi yang dimiliki orang, terutama di bidang hukum, adalah kita [orang Asia] adalah pekerja keras, kita adalah yang bekerja [bukan pemimpin]" ujarnya.

"Kita jarang sekali disebut sebagai "oh mereka adalah pemimpin yang baik, ayo promosikan mereka".

Seringkali persepsi seperti itu membuat dirinya meragukan kemampuannya sendiri.

Dai Le adalah salah seorang penggiat yang sering menyuarakan pentingnya keberagaman etnis di tempat kerja dan tergabung dengan organisasi DAWN Network.

Ia merekomendasikan agar kelompok imigran di Australia merefleksikan bagaimana budaya mereka bisa mempengaruhi perilaku di tempat kerja.

Salah satu contohnya adalah budaya Asia yang menurutnya cenderung membela atasan, tapi di satu sisi membuat mereka kurang percaya diri untuk berbicara atau mengusulkan ide-ide baru.

"Mungkin Anda berpikir 'Ini bukan tempat saya untuk berkomentar' [jadi Anda tidak berani mengatakan apa-apa]," kata Dai.

Ia juga mengatakan orang-orang dari latar belakang Asia seringkali takut malu jika ada yang tidak setuju dengan ide-ide mereka dalam sebuah rapat, dan karenanya menyebabkan mereka berdiam diri.

Menurutnya langkah pertama yang bisa dilakukan untuk mengubah perilaku para imigran di tempat kerja adalah dengan mengidentifikasi nilai-nilai budaya-budaya dari negara asal yang membatasi karir mereka

Pelatihan dan bimbingan soal ini dapat membantu imigran untuk bisa keluar dari situasi seperti ini.

"Bersikaplah proaktif. Ikut serta dalam forum yang membahas cara berkomunikasi di tempat kerja ... Itu sebabnya saya mendirikan DAWN Network, karena saya tidak pernah bertemu orang yang membimbing saya," katanya.

"Para mentor yang kami miliki punya kesadaran soal budaya dan telah melalui perjalanan hidup yang serupa."

Artikel ini telah disadur dari tulisan aslinya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

[REPUBLIKA]

   
 
Angkat Kisah Bibi Nabi Muhammad SAW, DARWISH Melejit Lewat Lagu Safiyyah
Selasa, 10 Desember 2019 - 08:41

Bareskrim Tolak Laporan Politisi PDIP Terhadap Rocky Gerung
Senin, 09 Desember 2019 - 17:38

Jalan Lintas di Mahato Rusak, Banyak Truk Terpuruk
Senin, 09 Desember 2019 - 17:11

Gelar Trail Bersama, Camat Rakitkulim Kelilingi Sejumlah Desa
Senin, 09 Desember 2019 - 17:02

Sanksi Tegas Menunggu Sekolah yang Lakukan Pungutan
Senin, 09 Desember 2019 - 17:01

Waspada! Sore Ini Tiga Pintu PLTA Koto Panjang Dibuka Setinggi 30 Cm
Senin, 09 Desember 2019 - 16:59

PA 212 Sebut Khilafah dan Jihad Ajaran Islam, Tak Boleh Dihapus
Senin, 09 Desember 2019 - 13:53

Marquez Diprediksi Bakal Melewati Rekor Juara Milik Rossi
Senin, 09 Desember 2019 - 13:50

Survei: 79,45% Warganet Tak Setuju Majelis Taklim Harus Terdaftar
Senin, 09 Desember 2019 - 13:48

Ekonomi Nyungsep, Ramalan Rizal Ramli 9 Bulan Lalu Yang Jadi Kenyataan
Senin, 09 Desember 2019 - 13:42

Sandi: Kok Indonesia Malah Jadi Pengimpor Produk Halal Terbesar?
Senin, 09 Desember 2019 - 13:41

Jika Tak Perhatikan Hal ini, Pembangunan Tol Pekanbaru-Padang Ancam Perekonomian Masyarakat
Senin, 09 Desember 2019 - 13:32

Daftar ke 5 Parpol dan Punya Simpul Relawan, Johny Setiawan Makin Serius Maju Pilkada Inhu
Senin, 09 Desember 2019 - 13:26

Persiapan Tol Pekanbaru-Bangkinang, HK Mulai Pasok Material Konstruksi di Rimbo Panjang
Senin, 09 Desember 2019 - 13:20

Pengusaha Ogah Serahkan JPO, Pemko Pekanbaru akan Bentuk Tim Penyegelan
Senin, 09 Desember 2019 - 13:17

Pondok Pesantren Besuk Pasuruan Ikut Kecam Ceramah Gus Muwafiq
Senin, 09 Desember 2019 - 08:34

Empat Masalah Kesehatan Ini Mengincar Kamu yang Sering Sarapan Terlalu Cepat
Senin, 09 Desember 2019 - 08:22

Bupati Pelalawan Ultimatum OPD dan BPBJ Soal Proyek Gagal Lelang di 2019
Senin, 09 Desember 2019 - 08:18

Peta Drainase Pekanbaru Bisa Digunakan Tahun 2020
Senin, 09 Desember 2019 - 08:00

Tanggapi Rocky Gerung, Sandiaga Uno: Pilpres 2024 Masih Lama
Senin, 09 Desember 2019 - 07:57

96 Titik Api Belum Padam, Suhu Sydney Naik Hingga 40 Derajat Celcius
Senin, 09 Desember 2019 - 07:55

Waspada, Riau akan Diguyur Hujan Lebat
Minggu, 08 Desember 2019 - 11:42

Untung Vs Rugi Punya Mr P Besar dan Panjang, Ini Penjelasan Ahli
Minggu, 08 Desember 2019 - 11:36

Berada di Puncak Ketenaran, Waria Ini Putuskan Jadi Pria Tulen setelah Mimpi Ditabrak Truk
Minggu, 08 Desember 2019 - 11:13

 
 
Home

 
Sorot | Wawancara | Pokok Pikiran | Surat Anda
Klik Photo
| Iklan Baris | Index

Redaksi | Info Iklan | Disclaimer | Kotak Pos | Pedoman Media Siber

Copyright © 2011-2016 RiauTrust.com - Trusted News Portal
 
Alamat Redaksi & Pemasangan iklan :
 
Komplek Beringin Indah
Jalan Kulim No. 121, Pekanbaru, Riau  
  Telp/ Fax  : (0761) 63515
Mobile  : 0812-76-47104 ( Ali Sukri )  
Email : iklan_riautrust@yahoo.com
redaksi_riautrust@yahoo.com